Analisis Kesenjangan Pengelolaan Candi Tebing Gunung Kawi terhadap Standar Manajemen Risiko ICCROM
Keywords:
Cultural Heritage Management, ICCROM Risk Management, Gap Analysis, Preventive Conservation, Candi Tebing Gunung Kawi; Cultural Heritage Management; Gap Analysis; ICCROM Risk Management; Preventive ConservationAbstract
[English] This study investigates the gap between existing management practices at the Candi Tebing Gunung Kawi heritage complex and the international framework outlined in ICCROM’s Guide to Risk Management of Cultural Heritage. Despite its outstanding historical, religious, and archaeological value, the site faces significant physical, chemical, and biological deterioration. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through field observation and a review of conservation reports from Balai Pelestarian Kebudayaan XV (BPK XV). Findings reveal that while elements of ICCROM’s risk management are partially implemented—such as identification of damage agents and periodic conservation—the framework is not systematically or holistically applied. The key gaps lie in limited stakeholder participation, lack of preventive strategies, weak documentation, and insufficient integration of community values into risk assessment. The study contributes to the discourse on contextualizing global heritage management standards in local Indonesian settings and proposes recommendations for enhancing preventive conservation, long-term monitoring, and participatory management.
[Bahasa Indonesia] Penelitian ini menelaah kesenjangan antara praktik pengelolaan yang ada di Kompleks Candi Tebing Gunung Kawi dengan kerangka internasional yang dirumuskan dalam ICCROM’s Guide to Risk Management of Cultural Heritage. Meskipun memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan religius yang tinggi, situs ini menghadapi kerusakan fisik, kimiawi, dan biologis yang signifikan. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan serta kajian laporan konservasi Balai Pelestarian Kebudayaan XV (BPK XV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen manajemen risiko ICCROM telah diterapkan—seperti identifikasi agen perusak dan tindakan konservasi berkala—implementasinya belum sistematis maupun holistik. Kesenjangan utama mencakup keterbatasan partisipasi pemangku kepentingan, lemahnya strategi preventif, kurangnya dokumentasi jangka panjang, serta minimnya integrasi nilai-nilai komunitas dalam penilaian risiko. Studi ini berkontribusi pada wacana kontekstualisasi standar global pengelolaan warisan budaya dalam konteks lokal Indonesia, sekaligus memberikan rekomendasi untuk memperkuat konservasi preventif, pemantauan berkelanjutan, dan pengelolaan partisipatif.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 ASEAN Journal of Hospitality and Tourism Studies

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
